Suka Duka Menjadi Beauty Reviewer

Menjadi beauty reviewer itu menyenangkan, karena sesuai dengan passion, membagikan ulasan berbagai produk kecantikan berupa skincare dan makeup, berharap pembaca blog mendapatkan manfaat dari review yang saya tulis. Ketika seseorang memerlukan skincare atau makeup sesuai kebutuhan kulitnya, orang tersebut bisa melihat review tersebut. 


Berbagai tipe beauty reviewer

Sekarang ini ada berbagai media sosial, beauty reviewer pun terbagi dalam beberapa tipe
  • Beauty blogger: biasanya membuat beauty review berbentuk tulisan dan gambar yang dituangkan dalam blog
  • Beauty vlogger: akronim dari video blogger, beauty vlogger membuat beauty review berupa video berdurasi panjang yang ditayangkan di youtube
  • Beauty content creator: beauty reviewer ini membuat foto atau video review pendek di berbagai media sosial seperti Instagram, Tiktok, Twitter dan lain-lain
  • Reviewer di beauty review platform: membuat review berupa tulisan dan di berbagai beauty platform seperti Female Daily, Sociolla, Picky

Jenis review

Secara garis besar, jenis review yang biasa dibuat oleh beauty reviewer terbagi 2, yaitu:
  • Independent review: merupakan review yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi setelah menggunakan produk yang dibeli sendiri
  • Sponsored review: menulis review terhadap produk yang dikirim oleh brand. Ada yang berbayar, ada juga yang barter produk dengan review saja. Brand pun ada yang meminta honest review, ada juga yang meminta positive review saja. Khusus untuk review ini, bila memang cocok maka reviewer akan menyampaikannya dan bila tidak cocok, hanya menyampaikan product knowledge saja

Etika tak tertulis

Seperti profesi lainnya, menjadi beauty reviewer pun memiliki etika yang wajib dilakukan dalam melakukan pekerjaannya, namun etika ini tidak selalu tertulis. 
  1. Wajib honest review: ini adalah hal dasar yang harus dipegang oleh seorang beauty reviewer. Kalau memang produk yang di-review itu performanya bagus, maka akuilah memang bagus. 
  2. Say "No!" to fake review: hanya me-review produk yang memang pernah digunakan, jangan pernah membuat review palsu seolah-olah pakai produknya padahal tidak
  3. Menyampaikan dengan cara yang baik: meskipun ada produk yang tidak cocok, sampaikan dengan jujur dan dengan cara yang baik
  4. Tidak menjelekkan produk lain: sekalipun produk yang di-review itu cocok, bagus dan benar-benar works, reviewer tidak boleh menjelekkan produk lain

Suka duka menjadi beauty reviewer

Bila kita menggeluti satu pekerjaan yang memang disukai, tentu hati pun akan senang melakukannya, begitu juga menjadi beauty reviewer. 
  • Menyalurkan hobi membuat review produk yang bermanfaat bagi orang lain
  • Mendapatkan beauty products tanpa harus membeli
  • Sering mendapatkan produk dari brand yang memang cocok dan benar-benar works di kulit
  • Berkesempatan mencoba produk high-end yang mungkin tidak terjangkau oleh dompet saya
  • Dibayar untuk melakukan pekerjaan yang menyenangkan
  • Bonus passive income dari affiliate marketing bila ada yang membeli produk dari review yang kita tulis
Namun demikian, tentu saja terkadang ada beberapa hal yang kurang menyenangkan. 
  • Resiko breakout kebetulan mendapatkan produk yang tidak cocok atau mengandung bahan yang membuat kulit alergi 
  • Cocok dengan produk high-end tapi tidak bisa repurchase
  • Deadline mepet, terkadang ada brand yang meminta review secepatnya sehingga review yang dibuat tidak maksimal, hanya bisa menyajikan first impression
  • Terjebak "biaya siluman", seperti harus membayar ongkos kirim sendiri atau harus membeli produk terlebih dahulu lalu akan di-reimburse, namun ternyata reimbursement-nya lama
  • Untuk paid review, kalau sedang tidak beruntung kada ada brand yang membayar tidak tepat waktu


Nah, demikianlah suka duka menjadi beauty reviewer. Setelah membaca tulisan di atas, apakah teman-teman tertarik untuk menjadi beauty reviewer juga? Atau teman-teman  ada yang ingin menambahkan sesuai pengalaman sendiri? Silakan tulis di kolom komentar ya. 
Next Post Previous Post
2 Comments
  • fanny_dcatqueen
    fanny_dcatqueen November 16, 2022 at 7:47 AM

    Aku ga cocok mba jadi beauty reviewer 😅. Pertama aku ga suka difoto atau video. Ga nyaman aja, makanya di blog walopun ada bbrp fotoku, tapi ga banyak, pasti lebih banyak foto orang lain. Smntara kalo beauty reviewer itu kan harus confident, banyak foto juga utk membuktikan hasil dikulitnya before dan after toh.

    Kedua, kulitku super sensitif. Makanya aku jrg Gonta ganti produk. Skr ini aku cuma cocok pakai Cosrx yg propolis atau snail mucin. Ga pernah ganti udh bbrp tahun. Beauty reviewer hrs banyak coba macam2 produk. Kdg iri sih, kulitnya pada kuat2 , jrg breakout walo Gonta ganti 😅. Atau sbnrnya tetep ada yg ga cocok, tapi akhirnya ga diulas ya? Penasaran kalo produk yg diminta utk diulas, ternyata ga cocok, si beauty reviewer nya bisa tulis kondisi yg sebenernya ga?

    • Pipit ZL ceritaoryza.com
      Pipit ZL ceritaoryza.com November 16, 2022 at 10:15 PM

      Walah...
      Tergantung permintaan dari brand, Kak. Kalau boleh disebutkan biasanya saya tambahkan kalimat "Cocok di Si A belum tentu sama di kulit orang lain". Kada ada juga brand yang minta tidak disebutkan, jadi hanya kasih product knowledge saja.

Add Comment
comment url