Kacamata untuk Oryza

Dulu sempat bertanya-tanya akankah mata anak-anak saya seperti saya? Ternyata Oryza harus pakai kacamata. Inilah "drama" punya anak yang matanya silinder. 

Sejak kelas 1 SD, saya tidak bisa membaca tulisan jauh di papan tulis. Itulah sebabnya Mamah saya minta ke guru agar saya duduk di depan, saya pilih bangku kedua karena debu kapur di papan tulis mengganggu mata dan hidung saya. Berkali-kali ke dokter mata, tidak diberi resep untuk kacamata karena memang tidak menemukan lensa yang cocok. Saat itu di dokter mata tersebut belum ada autorefractor

Sampai di kelas 1 SMA, saya periksa ke RS Cicendo. Diperiksa pakai autorefractor dan alat-alat lainnya. Menurut dokter di Cicendo, kedua lensa mata saya kiri-kanan, miring ke arah luar (kiri: \ dan kanan: /) seperti huruf V. Itulah yang menyebabkan mencoba lensa secara manual tidak ada yang pas. Saya pun diresepkan kacamata dengan lensa minus dan silinder, dan alhamdulillah cocok. 



Anak saya yang pertama lahir prematur. Dokter anak yang menangani tidak bilang bahwa anak prematur berpotensi ada masalah di matanya. Setelah TK saya baru tahu tentang hal ini dan memeriksakan Oryza ke dokter mata pertama, hasil pemeriksaan pakai autorefractor adalah plus dan silinder. Kata dokter, mata anak pada umumnya memang plus dan nanti akan berkembang sesuai pertumbuhan tubuhnya. Saat itu Oryza hanya diberi suplemen untuk mata dan tetes mata. 

Ory sudah bisa membaca sejak sebelum masuk SD. Di kelas 1 SD, saya kembali memeriksakan matanya ke dokter mata yang lain. Kali ini diperiksa manual menggunakan lensa pasang-copot, dan tidak ada lensa yang enakeun di mata Oryza. Dokter yang ini "lagi-lagi" memberi suplemen mata dan menyarankan untuk ke Dokter Mata Ahli Pediatrik Oftalmologi di RS Cicendo. 


Astigmatism view

Pandemik selama 2 tahun membuat Oryza hampir full belajar di rumah, baru di kelas 3 mulai belajar di kelas. Namun sampai saat itu tidak ada keluhan karena Ory duduk di bangku kedua. Nah, saat masuk kelas 4 minggu lalu, bangku di kelasnya dibuat berkelompok dan kelompok Oryza di belakang, setara bangku keempat kalau dijejer seperti biasa. Barulah Ory minta kacamata karena tulisan di papan tulis tidak terbaca. 

Saya langsung membawa Ory ke optik terdekat yang memiliki autorefractor dan alat-alat lain. Hasil pemeriksaan menyebutkan mata Ory rabun jauh dengan lensa plus 3 dan silinder 5. Lanjut mencoba lensa manual, ternyata lensa yang enakeun di mata Ory adalah silinder 1. 


Pelayan optik menawarkan berbagai frame kacamata mulai 225 ribu dan lensa mulai 150 ribu. Sementara itu di marketplace ada yang frame+lensa mulai 125 ribu. Kalau membeli di luar, akan dikenakan biaya periksa. 

Sempat googling dan menemukan bahwa membeli kacamata di optik memang lebih mahal namun tetap lebih baik karena ukuran lensa lebih pas dan lebih tahan lama. Fyi, selama ini saya hanya membeli kacamata di optik saja, belum pernah di marketplace atau tukang kacamata. 

Saya bilang ke pelayan optik bahwa budget saya hanya 200 ribu untuk frame dan lensa. Ternyata Si Pelayan punya lho! Dan akhirnya Oryza pun mendapatkan kacamatanya. 






Next Post Previous Post
1 Comments
  • Eka Fitriani Larasati (@efila_)
    Eka Fitriani Larasati (@efila_) August 10, 2023 at 9:51 PM

    spill dong teh nama optiknya, hahaha. murah banget ya ampun. disini ada deket rumah tapi mahalnya ampun gusti. btw waktu kecil aku juga pakai kacamata teh, silidris juga. tapi sekarang udah berubah jadi plus, gak tanggung plus 4 malah! itu baru cek di optik sih, pengen cek yang komplit di cicendo, tapi jauh atuhlah dari cibiru mah, hahahaha

Add Comment
comment url